Siapalah yang akan mengenal benar tentang kita jika bukan diri kita sendiri, bahkan orangtua dan orang-orang terdekat kitapun belum tentu dengan benar mengenal kita. Kadang mereka hanya tau beberapa hal mengenai kita, apalagi orang-orang yang sama sekali tidak kenal dengan kita. Ataupun orang-orang yang hanya sebatas tau kita tapi tidak dengan cerita hidup kita, itulah yang kadang menjadi rancu saat orang berbicara tentang kita seakan-akan dia mengenal diri kita jauh lebih tau yang pada akhirnya muncul persepsi sesuai dengan ke so tauan orang-orang terhadap kita.
Kebanyakan dari mereka menilai dari apa yang selintas mereka lihat dan dengar saja, bukan dari kesaksian nyata. Sehingga dengan seenaknya mereka menjugde lemah terhadap seseorang yang sedang bersedih misalnya, sementara dia tidak tahu seberapa payah seseorang yang menangis itu melewatkan luka dengan senyuman. Terkadang dengan mudah pula orang menjugde seseorang itu amat bahagia sementara dia tidak tau seberapa airmata yang ia sembunyikan dibalik tawa yang seseorang itu tampakan. Kita tidak akan pernah tau takaran perasaan seseorang hanya dari asumsi kita saja, setiap orang menjalani kehidupan dengan porsinya masing-masing. Disana ada mudah dan susah, hidup tidak akan sedemikian lurus-lurus saja. Dalam menjalaninyapun akan dengan cara yang beragam, ada yang dengan selalu memamerkan dan ada juga yang dengan selalu menyembunyikan. Setiap manusia akan pandai mengemas takdir dengan sesuai kemampuannya, karena ada manusia yang memang benar-benar kuat menghadapinya seorang diri dan ada manusia yang kuat dengan bantuan orang lain. Semuanya fitrah manusia yang dianugerahkan Tuhan dalam fase ini.
Pandangan siapapun akan berbeda terhadap kita sesuai dengan posisi orang itu dalam hidup kita, seperti kita adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang yang sama sekali tidak mengenal kita sementara kita adalah orang istimewa dalam penglihatan orang-orang yang mencintai kita. Begitulah kiranya, karena sebaik apapun kita dimata orang yang tidak suka kepada kita maka apapun itu bentuk kebaikannya kita itu tetap buruk dan seberapa burukpun kita dimata orang yang suka kepada kita maka apapun bentuk keburukan itu maka akan tetap baik. Penilaian itu hanya sebatas sebab akibat dari penempatan orang bagi kita pun kita bagi orang tersebut.
Alangkah lebih bijaknya saat kita melakukan apapun itu didasari oleh rasa ikhlas bukan untuk mendapatkan sanjungan atau rasa hormat dari orang lain. Karena akan lebih menyakitkan saat ambisi kita untuk terlihat istimewa di hadapan orang lain tapi yang ada hanya pembalasan cemoohan misalnya. Sedari sekarang coba tanamkan kenetralan perasaan dalam bersosilisasi, bukan artinya kita harus tidak perduli akan orang-orang disekeliling kita melainkan supaya sanjungan atau hinaan itu tidak akan berdampak apapun kepada kita. Kita harus selalu mengedepankan pikiran ketimbang perasaan, sehingga apapun yang orang lakukan kepada kita baik buruk itu akan menjadi bahan kita untuk lebih semangat menjalani kehidupan.
Jangan pernah ragu untuk menampakan kebenaran diri sendiri, tidak perlu memanipulasi dengan menjadi orang lain supaya terlihat begini begitu dihadapan orang lain. Karena yang paling tau bagaimana kita bahagia, bagaimana cara kita menghadapi kesulitan itu adalah diri kita sendiri. Orang lain hanya sekedar penambah beberapa sumber kekuatan kita, jangan sampai banyak bergantung kepada orang lain juga karena itu hanya akan menyusahkan kita saja disatu keadaan atau bahkan dibanyak keadaan. Justru kita harus percaya akan kemampuan kita yang luar biasa mampu menghadapi apapun.
Tidak usah sibuk memperlihatkan ini saya karena itu tidak elegan, cukup dengan sibuk menata diri karena orang yang tahu nilai kita maka kita tidak perlu untuk diakui justru dengan mengalir sendiri mereka akan menghargai. Tetap semangat dalam menjalani kehidupan walaupun terkadang manusia lebih kejam dari sang pencipta.
Cianjur, 2020.
#srinjisaheseri
Ijin share yunda
BalasHapus